Sejarah Kemayoran

Kemayoran adalah suatu kawasan di pusat kota Jakarta yang semula dikenal karena fungsinya sebagai bandar udara internasional pertama di Indonesia sejak tahun 1938. Dahulu sebagai Bandar Udara internasional, Kemayoran merupakan pintu gerbang utama untuk masuk ke Indonesia untuk melakukan berbagai macam kegiatan yang bermanfaat bagi nusa dan bangsa, seperti berbagai konferensi perdamaian, hubungan internasional, perjanjian kerjasama di bidang politik, ekonomi, sosial maupun perdagangan. Selama kurang lebih 50 tahun melaksanakan fungsinya, berjuta manfaat telah disumbangkan oleh Bandara Kemayoran.

Dari waktu ke waktu setelah Indonesia merdeka, kota Jakarta sebagai ibu kota negara tumbuh dengan cepatnya ke segala penjuru, tidak terkecuali daerah Kemayoran. Karena semakin padatnya hunian di sekitar Kemayoran dan lokasi bandara yang semakin dekat ke pusat kota, serta bertambah padatnya volume penerbangan, maka pemerintah memutuskan untuk memindahkan fungsi bandara ke tempat yang baru di Cengkareng dengan alasan keselamatan penerbangan, kebisingan, terbatasnya lahan, dan demi kepentingan pembangunan kota Jakarta.

Sejak Juli 1985, Bandara Kemayoran di tutup setelah diresmikan dan difungsikannya Bandara Soekarna Hatta sebagai bandara internasional. Asset bandar udara Kemayoran yang semula merupakan sebagian kekayaan Perum Angkasa Pura ditarik kembali oleh pemerintah dan dihapus sebagai asset dari perum tersebut.

Selanjutnya, kawasan seluas 454 Ha eks bandara Kemayoran yang terletak tepat di pusat kota Jakarta, dalam keadaan kosong, sepenuhnya dikuasai oleh pemerintah pusat dan perlu dimanfaatkan secara optimal agar hasil akhirnya dapat dinikmati seluruh rakyat Indonesia. Sesuai arahan yang digariskan Presiden RI, isimpulkan bahwa sasaran yang hendak dicapai dengan kawasan tersebut adalah membangun sebuah kota di dalam kota Metropolitan Jakarta yang mempunyai fungsi sebagai sarana perdagangan internasional khususnya untuk menunjang kegiatan ekspor komoditi non-migas. Diwujudkanlah kota Baru Bandar Kemayoran sebagai ‘Indonesia International Trade Center’.

DASAR PEMIKIRAN

Keputusan untuk membangun Kota Baru Bandar Kemayoran didasari pemikiran perlunya menggalakkan perdagangan luar negeri untuk meningkatkan devisa dan mengantisipasi dampak globalisasi. Disamping itu disadari perlunya peningkatan kemampuan penerobosan pasar, kegiatan promosi yang tepat sasaran, dan sistem informasi yang terpadu.

Berdasarkan hal tersebut, diambil langkah-langkah mewujudkan sistem tata niaga efektif dan efesien, meningkatkan promosi dan prasarana ekspor (fisik dan kelembagaan), serta meningkatkan kerjasama perdagangan internasional. Selain itu akan dimantapkan pula kegiatan pendukung perdagangan internasional di bidang perbankan, asuransi, perhubungan, bea cukai, keimigrasian dan lain-lain. Untuk dapat menyatukan semua kegiatan tersebut, pemikiran pemerintah adalah dengan mempromosikan “Indonesia International Trade Center” (IITC).

RENCANA UMUM TATA RUANG

RUTR DKI Jakarta 1987 dan ditegaskan kembali dalam RUTR DKI Jakarta 2005 menyebutkan bahwa Komplek Kemayoran termasuk wilayah yang akan dikembangkan secara khusus sebagai sub sentra baru yang menampung kegiatan sektor perdagangan, perumahah, dan perkantoran dengan pola kepadatan penduduk sedang. Komplek Kemayoran juga akan dikembangkan sebagai wilayah hijau berlingkungan asri.

Berdasarkan pengkajian atas potensi lokasi lahan, aksesbilitas, potensi hutan rawa dengan habitat langka, dan lain-lain, diputuskan bahwa penggunaan lahan di Komplek Kemayoran harus ditingkatkan intensitasnya disamping tetap berfungsi sebagai sarana pusat promosi, informasi dan perdagangan Internasional (One stop service) dengan tetap memperhatikan pembangunan berwawasan lingkungan.

Sumber : http://www.setneg-ppkk.co.id/

 

Post Tagged with , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UA-33311141-1